Aku punya seorang teman. Orangnya lebih muda dari aku, tapi
mental age nya sepertinya jauh diatas aku. Ini adalah tulisanku tentang “kita”.
Kita yang dulu dan kita yang sekarang.
Kita yang Dulu
Perkenalan kita adalah sebuah ketidaksengajaan. Melalui
sebuah kegiatan dimana saat itu, kehadiranmu sama sekali tidak pernah aku
perhitungkan. Bahkan gak pernah nyangkut di mataku. Maksudnya ada atau gak
adanya kamu itu gak terlalu berpengaruh dalam kehidupanku.
Kamu pendiam, gak banyak omong, gak banyak berlaku, kaku,
dan punya ekspresi yang sukar dibaca. Meski gitu, kamu sering sekali
menggangguku dengan cara mengejekku. Ya, setelah berhari-hari kamu baru
menunjukkan perubahan sikapmu kepadaku. Saat itu, kamu mulai ada di mataku.
Tahun berikutnya, setelah kita berpisah cukup lama dan hanya
bertemu jika ada perlu saja, kita dipertemukan lagi dalam sebuah kegiatan. Dua
kali. Tapi tetap saja hubungan kita tidak banyak berubah. Kamu yang suka
mengejekku dengan bilang “diet... diet...”, itulah dirimu saat itu.
Untuk kesekian kalinya kita dipertemukan. Hanya saja
pertemuan kita selalu dalam sebuah wadah (jika suatu saat wadah ini hilang,
bagaimanakah kita?). Kali ini juga dalam sebuah kegiatan. Kegiatan yang akan
mengantar kita menuju fase yang lebih dalam.
Kamu adalah orang yang pertama kali membuatku menangis (di
Depok) karena hal sepele, sepele banget. Tapi tangisku gak lebai. Hanya ada
setempuk air mata yang membuat mataku berkaca-kaca. Mungkin kamu masih ingat.
Ya, saat mengenalkan diri di malam nginep bareng itu. Kamu sepertinya hobby
sekali menggangguku dengan berbagai ejekan. Aku sebel, sampai-sampai aku lupa
apa yang kamu katakan waktu itu hingga membuatku seperti itu.
Kamu pergi jauh cukup lama. Jadi berasa sedikit sepi. Ada
rasa yang hilang. Aku bertanya-tanya, baik-baikkah kamu disana. Tapi apa daya
aku tidak akan bisa mendapatkan jawabnya. Hanya bisa berharap kamu baik-baik
saja.
Setelah kamu pulang, banyak moment yang kita habiskan
bersama. Bahkan bisa dibilang itu ngebuat aku berpikir gini, “terlalu banyak
moment pertama yang aku habiskan bersama kamu”. Makan sepiring bersama.
Berpetualang di pagi hari hanya berdua. Bercerita banyak hal mengenai masa
depan. Dan masih banyak lagi. Gak seharusnya semuanya aku bocorin. Cukup
sebagai memori kita.
Kita yang Sekarang
Ntah kamu sadari atau tidak. Aku selalu berusaha untuk
mendapatkan foto kita (hanya berdua) sejak saat itu. Dan aku bertekad untuk
memiliki foto berdua di setiap kegiatan yang kita ikuti bersama. Tapi ada satu
masa dimana kamu gak pengen berfoto berdua denganku. Itu membuatku cukup sedih.
Aku pikir kamu membenciku dan tidak ingin berdekat-dekatan denganku lagi.
Hingga sekarang aku mengira hal itu adalah benar adanya.
Kamu membenciku. Kamu tidak ingin berteman denganku. Kamu tidak ingin
berdekat-dekatan denganku lagi. Mungkin kamu malah mengutuki setiap moment yang
kita lalui bersama. Mungkin.
Aku sadar, kamu tengah membangun tembok antara kita berdua.
Kamu tidak seperti dulu. Bahkan kamu seringkali membelokkan arah pembicaan
kita. Andai kamu tahu, effort yang aku butuhkan untuk memulai itu sangat besar.
Kamu, mungkin kamu gak pernah tahu apa istimewanya kamu
bagiku. Kamu adalah orang yang selalu nyoba ngertiin aku. Kamu gak pernah maksa
bahkan nuntut aku buat ngelakuin sesuatu. Kamu juga suka pantai sampai-sampai
memimpikan untuk bulan madu disana. Kamu membawa aku ke berbagai tempat yang
gak pernah aku pikirkan akan seperti itu. Kamu memberi aku kepercayaan diri.
Kamu sering memuji pekerjaanku. Kamu yang selalu gak pengen kalah kalo lagi
main sama aku. Kamu yang selalu membuatku merasa comfortable dengan
kehadiranmu. Ya, cukup kehadiranmu.
Meski aku gak tahu apa penyebabnya. Meski aku pengen banget
tahu kenapa. Aku gak bisa menanyakannya padamu langsung. Aku takut jawabannya
terlalu menyakitkan untuk di kenang. Tapi apakah aku harus terus berdiam diri
membiarkan semuanya seperti ini?
0 comments:
Post a Comment